BUDAYA BACA
OKI SIWI
NO. KTA PGRI
09030602530
Membangun sebuah budaya perlu
waktu yang lama. Kebiasaan yang diwariskan secara turun temurun. Dilakukan
sebagai kesepakatan bersama, yang diyakini menjadi sesuatu yang baik. Kegiatan
menjalankan kehidupan sehari-hari dengan berbagai pernak-perniknya memberikan
ciri khas suatu daerah. Semua orang yang tinggal disana tidak akan bertanya
lagi mengapa harus begini atau begitu biasanya ya dilakukan karena memang dari
dulu sudah dilakukan.
Membentuk kebiasaan bersama dalam
sebuah negara perlu aturan yang mendukung. Bukan lagi sesuatu yang dihanya
diwacanakan melainkan harus diatur. Program yang perlu distrategikan, dirancang
agar berjalan dan menjadi bagian kehidupan masyarakat. Nilai-nilai baik yang
akan dijadikan sebuah budaya bangsa haruslah yang memang sudah ada sehingga
pendekatan akan pentingnya budaya tersebut lebih mudah untuk dilaksanakan.
Dasar-dasar budaya yang berbeda-beda disetiap wilayah adalah suatu kearifan lokal
yang bernilai tinggi.
Kearifan lokal yang bernilai
nasional perlu dibudayakan menjadi karakter bangsa. Banyak nilai-nilai yang bisa
kita temukan pada daerah yang berbeda namun sama dengan cara pendekatan sesuai
dengan daerah masing-masing. Membaca salah satu yang sejak lama menjadi budaya
di banyak daerah di negara ini. Hal ini dapat dilihat dari adanya peninggalan-peninggalan
sejarah yang masih tersimpan berupa tulisan. Budaya menulis dan membaca
sejatinya telah ada sejak lama. Menjadi tersendat karena penjajahan yang
terjadi. Menulis dan membaca bukan menjadi hal yang begitu penting selain
bertahan hidup.
Catatan sejarah akhirnya melahirkan
para pahlawan yang memperjuangkan pentingnya kemampuan menulis dan membaca. Melawan
kebodohan dengan perjuangan bukan hanya dengan pertempuran fisik tapi juga
perlawanan dengan kemampuan berpolitik dan berdiplomasi. Kepandaian berkomunikasi
dan bersiasat dengan bangsa-bangsa lain memperjuangkan kemerdekaan negara kita.
Pertempuran yang bukan hanya di medan perang tapi juga di meja-meja perundingan.
Menulis dan membaca menjadi penting membela negara kita. Terbukti dengan
perjuangan itu akhirnya kemerdekaan dapat kita raih.
Menulis dan membaca telah
terbukti memberikan peran yang penting terhadap lahirnya negara kita. Saat ini
untuk mengisi kemerdekaan kita juga harus membudayakan kembali menulis dan
membaca. Mengangkat harkat dan martabat bangsa dengan melakukan prestasi-prestasi
yang gemilang di mata dunia. Budaya menulis dan membaca perlu untuk terus
dilestarikan. Generasi penerus bangsa harusnya menyadari pentingkan kedua hal
ini. Jangan hanya menjadi penonton dan penikmat hasil produk-produk negara
asing. Kita harus ikut serta menjadi pemain di rancah mancanegara sebagai penghasil
karya yang layak untuk dijual.
Program wajib belajar dari 9
tahun yang kemudian lanjut menjadi 12 tahun dulu mungkin salah satu media untuk
menjadikan masyarakat punya kemampuan baca dan tulis yang lebih baik lagi.
Program-program lain yang saat ini banyak dirancang pemerintah juga nampaknya
akan membentuk generasi baru yang sadar akan pentingnya membaca dan menulis. Kemampuan
dasar yang akan menjadi modal untuk menjelajah dan menemukan hal-hal yang baru.
Informasi yang bertebaran dimana-mana harus dapat dibaca dan dihubungkan guna
menjadi solusi terhadap suatu persoalan.
Kemampuan membaca situasi sekarang
ini akan melahirkan banyak peluang sukses. Membaca yang bukan hanya tulisan tapi
segala sesuatu yang berkembang dan terjadi saat ini. Era baru digitalisasi
memerlukan kemampuan untuk membaca peluang dengan berkolaborasi dan berkomunikasi
dengan orang-orang yang kompeten dibidangnya masing-masing. Sepertinya perlu
kita ulang kembali sejarah menjadikan membaca sebagai penyelamat negara ini.
Melahirkan kembali pahlawan-pahlawan yang menjadikan bangsa kita maju dan sejahtera.
Jakarta, 23 Februari
2021.


0 komentar:
Posting Komentar