SELAMAT TINGGAL
Oleh Oki Siwi
Perpisahan bukan untuk ditangisi atau
disesali. Melangkah meninggalkan apa yang pernah dilalui, dimiliki, dikasihi
memang bukan perkara yang mudah untuk dilakukan. Perasaan sedih yang mendalam
secara tiba-tiba muncul ketika waktu berpisah datang. Perpisahan ada berbagai
macam. Perpisahan seharusnya adalah hal yang biasa. Setiap hari kita
mengalaminya namun berbeda untuk setiap kesempatan. Kita keluar rumah bertemu
dengan para pedagang, tetangga, supir, satpam lalu pasti setelahnya berpisah.
Pertemuan dan perpisahan yang mudah dan sederhana. Tanpa rasa. Biasa saja.
Perpisahan yang kita tahu untuk
selamanya adalah yang terberat. Perpisahan yang memberikan pengaruh pada hati
karena ada faktor emosi yang muncul disana. Perasaan kehilangan sesuatu yang terbiasa
ada dan telah kita miliki dalam waktu yang lama. Kemelekatan kita pada sesuatu
yang dalam pikiran kita anggap selamanya akan bersama. Begitu dekatnya rasa
memiliki dan kenyamanan yang selama ini telah tercipta membuat berat untuk
melangkah.
Waktu yang sekian lama dilalui bersama,
kenangan yang bermacam ragam. Pengalaman yang mendewasakan. Jika tetap tinggal
adalah pilihan maka itu pasti yang akan dipilih, akan tetapi pilihan itu tidak
ada. Menangis adalah cara yang secara alami muncul karena perasaan sedih. Air
mata keluar tanpa bisa kita bendung lagi. Hati dan tubuh seperti seiya sekata
menyelami rasa sedih ini. Keduanya kompak menunjukan apa yang selama ini
tersimpan dan dirasakan.
Kebersamaan selama ini tentu tidak
selalu berjalan mulus. Ada saja kerikil-kerikil yang sesekali terinjak dan
melukai kaki. Berdarah dan sakit sekali. Namun ada pelajaran untuk sembuh.
Bagaimana bertahan dengan luka dan tetap melangkah. Ternyata waktu sedikitnya
adalah obat yang diperlukan oleh kita. Bersama waktu sembuhlah luka. Dengan
bekas luka jadilah kita orang yang lebih baik. Tidak akan kita berbuat jahat seperti
yang kita alami hingga orang lain terluka dan kecewa.
Diri yang hari ini ada adalah sebagian
dari masa lalu. Membentuk kita yang sekarang, mewarnai diri menjadi seperti
ini. Selamanya akan ada dalam diri walau kata selamat tinggal sudah terucap.
Namun tidak akan berpisah hati ini. Ada tali yang tidak terlihat mengikat kita,
dalam kenangan selamanya. Memaksa untuk segera melupakan rasanya tidak mungkin.
Bagaimana mungkin bagian dari diri dilupakan?Mengenang dan menyimpan semua rasa
jauh didalam hati. Ditempat tersembunyi agar tak ada yang tahu luka ini. Kembali
menjalani hari dengan mencoba kembali bahagia.
Doa dalam hati terus dipanjatkan atas
kesempatan yang pernah dilalui. Semoga semua akan baik-baik saja. Terima kasih
yang tak terhingga atas kekuatan untuk bertahan dalam rasa ini. Penyesuaian
dengan keadaan penuh ikhlas akan takdir yang ada. Semua kebaikan akan dikenang,
semua salah akan termaafkan. Waktu tetap berjalan dan tak bisa diputar kembali.
Aku pamit, selamat tinggal. Masa depan semoga menjadi lebih baik dan lebih
indah. Aamiin.
Jakarta, 5 Februari 2022
Hari Sabtu-16
30HariMenulis

0 komentar:
Posting Komentar